Postingan

Menampilkan postingan dari Februari, 2025

Langit Yang Masih Sama, Tapi Cinta Telah Tiada

Pertemuan yang Mengubah Segalanya....... Aku masih ingat hari itu dengan jelas. Suasana ruangan dipenuhi orang-orang yang sibuk berbincang, membahas program kerja organisasi. Di antara keramaian itu, pandanganku jatuh pada seorang perempuan yang duduk tak jauh dariku. Senyumnya sederhana, tapi ada sesuatu dalam sorot matanya yang membuatku terpaku. Saat itu juga, entah mengapa, hatiku berbisik: Aku ingin mengenalnya lebih dekat. Tak ingin membiarkan kesempatan berlalu, aku mulai mencari cara untuk mendekatinya. Awalnya, hanya sekadar basa-basi, bertanya tentang tugas organisasi, lalu berkembang menjadi obrolan-obrolan yang lebih akrab. Hingga akhirnya, perlahan, dia menyambut kehadiranku. Waktu berjalan, dan keberanian yang semula hanya sebatas obrolan akhirnya membawaku ke titik di mana aku mengungkapkan perasaanku. Aku menyukainya—bukan hanya karena parasnya, tapi karena bagaimana dia membawa dirinya, caranya berbicara, caranya melihat dunia. Dan ketika dia menerima perasaanku, dunia...

Analisis Bahasa Terhadap "Berbagai" dan "Pelbagai"

Secara morfologis kata "berbagai" dan "pelbagai" terbentuk dari proses derivasi dari akar kata "bagai" yang mengalami proses afiksasi berupa prefiks "ber-"untuk kata "ber-bagai" dan prefiks "per-(berubah menjadi "pel-") untuk kata "pelbagai". Kata "pelbagai" sendiri secara derivasional merupakan kata yang terkesan mengikuti pola kata "pelajar" yang mengalami penambahan imbuhan di awal berupa "per-", kemudian berubah menjadi "pel-". Hal tersebut merupakan sebuah kekhususan untuk kata "ajar" atau "pelajar" secara morfologis.  Dengan dengan demikian morfonemik yang sesuai untuk kata "bagai" yang kedua(pelbagai) menggunakan imbuhan awalan "pel-" yang nantinya akan dibahas lebih lanjut dalam aspek sintaksisnya. Secara sintaksis kata "bagai" merupakan jenis kata nomina atau kata benda, kemudian berubah menjadi kata "berbagai...

Jika Bahasa Arab Bukan Bahasa Al-Qur'an

Sebagaimana kita ketahui bahwa, bahasa Arab memiliki karakteristik yang begitu luar biasa, yang kelak justru akan menjadi sebuah "senjata makan tuan" bagian orang Arab sendiri, dan menjadi "bom waktu" bagi non native speaker arabic. Dengan demikian, statement dari Abdullah bin Muslim bin Qutaibah tak dapat ditelan mentah-mentah, beliau berkata: إذا سرك أن تعظم في عين من كنت في عينه صغيرا، ويصغر في عينك من كان في عينك عظيما فتعلم العربية، فإنها تجريك على المنطق وتدنيك من السلطان "Jika engkau senang menjadi besar di mata orang yang menganggapmu kecil, dan melihat kecil orang yang kau anggap besar, maka belajarlah bahasa Arab. Sebab, bahasa itu akan membawamu kepada logika dan mendekatkanmu kepada kekuasaan." Namun, tak bisa dibenarkan juga jika ada yang beranggapan bahwa statement di atas salah atau keliru, sebab bahasa Arab memang menjadi sebuah bahasa dengan kompleksitas yang paling tinggi, dengan demikian jika ada orang yang menguasai bahasa Arab maka ia...

Jika bahasa Arab bukan bahasa Al-Qur'an

Salah satu kawan baik kami yang sekarang sedang melanjutkan studi di Suriah memberikan informasi bahwa, kata الاستراحة yang makna asalnya "istirahat" dalam lingkungan tertentu bisa bermakna "tawaran kepada pria untuk tidur bersama dengan pekerja seks komersial(PSK)". Kadang aku berpikir bahwa: Dengan segala dialek yang ada, penggunaan kosakata yang berbeda antara satu negara Arab dengan Arab lainnya, itu disebabkan karena "Eksklusivisme berlebih negara Arab sendiri atas negara-negara Arab lainnya". Dan kiranya, bangsa Indonesia memiliki moralitas bahasa yang lebih unggul, sebab kenapa? Karena bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional bagi semua bahasa daerah lainnya, dan dapat dipastikan tidak ada perbedaan dialek bahasa Indonesia antar satu individu dengan individu lainnya. Sedangkan bangsa Arab, yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa nasional mereka sekaligus bahasa sehari-hari, justru menimbulkan banyak dialek yang "menyebalkan", dengan kat...

Uji Legalitas Bahasa Terhadap Kata "Solutif"

     Dapat kita sepakati bahwa "fenomena perkembangan bahasa sejalan dengan perkembangan manusia sebagai masyarakat tutur". Tak jarang bahwa kosakata-kosakata yang digunakan dalam komunikasi sehari-hari disebabkan oleh masyarakat bahasa kelas bawah hingga kelak akan menjadi sebuah kata baku dalam sebuah bahasa. Perkembangan bahasa secara leksikal dan semantik dapat terbagi - setidaknya - dalam 3(tiga) tataran klasifikasi: 1. Perubahan makna kata 2. Perluasan makna kata 3. Penyempitan makna kata 3(tiga) kondisi tersebut dilatarbelakangi oleh -sekurang-kurangnya - 4(empat) motif dasar yaitu: 1. Kebutuhan masyarakat bahasa akan kosakata/makna baru(secara internal) 2. Perkembangan budaya dan teknologi(secara eksternal/pengaruh dari luar) 3. Perkembangan sosial bahasa(faktor internal) 4. Sebuah keniscayaan bagi sebuah bahasa untuk senantiasa berkembang agar tidak mengalami kepunahan.      Kiranya, hal di atas dapat menjadi prolog singkat sebelu...