Postingan

Menampilkan postingan dari Desember, 2025

Penunjuk Waktu dalam Bahasa Arab Era Klasik

Orang-orang Arab klasik mempunyai cara yang unik dalam menunjuk waktu, yaitu mereka memberikan nama dalam waktu sehari semalam, hal ini membantu mereka dalam menentukan waktu dengan akurat dan tepat. Abu Manshur As Tsa'alabi merangkum nama-nama waktu dalam sehari semalam (24 jam) tsb, sebagai berikut: Jam-jam siang hari    الشروقُ = Jam 7 pagi  البكُورُ = Jam 8 pagi الغُدْوَةُ = Jam 9 pagi الضُّحَى = Jam 10 pagi الهاجِرَةُ = Jam 11 pagi الظَهِيرَةُ = Jam 12 siang الرَّوَاحُ = Jam 1 siang العَصْرُ = Jam 2 siang القَصْرُ = Jam 3 siang الأصِيلُ = Jam 4 sore العَشِيُّ = Jam 5 sore الغُروبُ = Jam 6 sore Jam-jam malam الشَّفَقُ = Jam 7 malam الغَسَقُ = Jam 8 malam العَتَمَةُ = Jam 9 malam السُّدْفَة = Jam 10 malam الفَحْمَةُ = Jam 11 malam الزُّلَّةُ = Jam 12 malam الزُّلْفةُ = Jam 1 dini hari البُهْرَةُ = Jam 2 dini hari السَّحَرُ = Jam 3 dini hari الفَجْرُ  = Jam 4 pagi الصُّبْحُ = Jam 5 pagi الصَّباحُ = Jam 6 pagi Referensi: Fiqh al-Lughoh Wa Sirr al-'Arabiyah~Abu Mansh...

Melihat Washil bin Atha' sebagai seorang Linguis, bukan ideolog

Seorang pakar linguistik dan balāghah yang kepiawaiannya dalam bidang kebahasaan menjadikannya rujukan banyak ahli bahasa Arab. Namun demikian, ia memiliki keterbatasan dalam mengartikulasikan salah satu bunyi, yang dikenal dengan istilah al-lutsghah (اللثغة). Ia tidak mampu melafalkan bunyi rā’ secara fasih. Kekhasan ini bahkan kemudian dikenal luas hingga dijadikan bahan perumpamaan oleh para penyair setelahnya, salah satunya tampak dalam syair pujian Abu Muhammad al-Khāzin kepada Ismail bin ‘Abbād: نعم تجنّبَ "لا" يومَ العطاء # كما تجنّبَ ابنُ عطاء لفظة الرّاء Fakta menarik tentang Wāṣil bin ‘Aṭā’ adalah bahwa ketidakmampuannya mengucapkan bunyi rā’ sama sekali tidak menghambat proses komunikasinya. Justru sebaliknya, ia semakin dikenal dan dikagumi dalam bidang kebahasaan karena kemampuannya menghindari huruf rā’ dalam setiap ujaran. Dengan kata lain, ia tidak pernah mengucapkan huruf rā’ dalam kata maupun kalimat apa pun yang disampaikannya. Setiap kata yang mengandung b...

Mengapa Jama' Lafal مرأة adalah نساء?

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa lafadh مرأة adalah bentuk muannats dari lafadh مرء (seorang laki laki), sehingga bisa kita fahami bersama bahwa penambahan huruf ta' marbuthohnya adalah sebagai tanda makna muannats (perempuan). Selanjutnya kita juga perlu memahami bahwa di dalam bahasa Arab ada beberapa macam bentuk jama' diantaranya bentuk jama' mudzakkar salim, muannats salim, jama' taksir, dll. Pada macam jama' taksir juga dibagi bagi lagi diantaranya adalah bentuk jama' yang masih menjaga huruf asal bentuk lafadh mufrodnya seperti lafadh  كتاب yang dijama'kan menjadi kata كتب, dalam hal ini huruf yang tidak dirubah keberadaanya adalah huruf ك-ت-ب, selain itu juga ada jama' taksir yang bentuknya berubah dari lafadh mufrodnya seperti bentuk jama' lafadh مرأة adalah نساء, kedua lafadh ini tidak ada kaitan asal muasal kata, karena lafaddh مرأة terdiri dari huruf asal م-ر-أ sedangkan lafadh نساء terdiri dari huruf asal ن-س-أ dengan demikian dapat d...