Postingan

Ilusi Kemajuan

Terdapat kendali bawah sadar yang tanpa kita sadari justru menjadi jebakan terdalam dalam proses pengembangan diri. Hal tersebut dikenal dengan istilah “In Motion”, yang memiliki “antibiotik” berupa konsep “In Action”. Mari kita bedah bias negatif ini, lalu kita temukan penawarnya. Telah menjadi khazanah purba yang tetap relevan hingga saat ini bahwa terlalu banyak berpikir atau menganalisis justru dapat menghambat munculnya tindakan. Namun, sebagian orang menganggap hal itu sebagai kemajuan, karena menimbulkan rasa sukses dalam diri. Misalnya, ketika ingin kembali mengerjakan penelitian S-2, dalam kondisi malas kita mulai membayangkan langkah demi langkah: membuka notebook, menyiapkan kertas, kopi, bantal yang nyaman, hingga menganalisis teori secara kritis. Pada momen itu muncul perasaan seolah telah ada kemajuan, bahkan merasa berhasil. Akibatnya, kita merasa tidak perlu melakukan tindakan lebih lanjut, karena pikiran tersebut telah dianggap sebagai satu langkah maju. Padahal, itu h...

Bahasa Ilmiah dan Ilusi Kecerdasan

Kemampuan menggunakan istilah ilmiah tidak serta-merta menunjukkan kecerdasan seseorang. Bahasa yang tampak “tinggi” belum tentu mencerminkan kedalaman berpikir. Pengalaman ini saya temui dalam perkuliahan Pengembangan Pembelajaran Bahasa Arab di UIN Malang(lebih tepatnya pada "Pengembangan pembelajaran Qiro'ah bagi peserta didik berkebutuhan khusus") .  Saat itu, dosen kami melempar pertanyaan: apa istilah yang tepat untuk menggambarkan hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik—saling merespons, mengkritik, dan bertukar pendapat? Sebagian besar dari kami menjawab, “hubungan resiprokal.” Secara konsep, kami merasa jawaban itu tepat. Namun, beliau justru menanggapi, “Bahasa apa itu?” Kami menjawab, “bahasa ilmiah, ustadz.” Beliau tersenyum, lalu meluruskan: “Bahasa ilmiah bukan soal istilah yang terdengar canggih, tetapi bahasa yang logis dan mudah dipahami. Jika sulit dicerna, maka itu bukan bahasa ilmiah—melainkan bahasa yang gagal menyampaikan maksud.” Sejak ...

Pendidikan Sebagai Lahan Kosong

Pendidikan, bagi sebagian orang, kerap diperdebatkan pada tataran definisi dan konsep. Namun, bagi saya, perdebatan itu tidak selalu menjadi hal yang mendesak untuk diindahkan. Sebab, di balik ragam definisi yang ada, tersimpan satu substansi yang jauh lebih penting: pendidikan adalah proses perubahan—pergeseran dari satu keadaan menuju keadaan yang lain. Ia adalah perjalanan dari yang kurang baik menjadi baik, dan dari yang sudah baik menuju yang lebih baik. Berangkat dari pemahaman sederhana ini, sejatinya setiap orang memiliki ruang dan kesempatan untuk mengambil peran dalam proses pendidikan. Apa pun bentuknya—metode, media, maupun kurikulum—selama berorientasi pada pembentukan pribadi yang lebih baik, maka di situlah pendidikan menemukan maknanya yang paling hakiki. Namun demikian, pendidikan tidak berdiri di ruang hampa. Ia bertumpu pada tiga fondasi utama yang harus berjalan selaras dan saling menguatkan, yang dikenal sebagai Tri Pusat Pendidikan: keluarga, lembaga, dan masyarak...

Penunjuk Waktu dalam Bahasa Arab Era Klasik

Orang-orang Arab klasik mempunyai cara yang unik dalam menunjuk waktu, yaitu mereka memberikan nama dalam waktu sehari semalam, hal ini membantu mereka dalam menentukan waktu dengan akurat dan tepat. Abu Manshur As Tsa'alabi merangkum nama-nama waktu dalam sehari semalam (24 jam) tsb, sebagai berikut: Jam-jam siang hari    الشروقُ = Jam 7 pagi  البكُورُ = Jam 8 pagi الغُدْوَةُ = Jam 9 pagi الضُّحَى = Jam 10 pagi الهاجِرَةُ = Jam 11 pagi الظَهِيرَةُ = Jam 12 siang الرَّوَاحُ = Jam 1 siang العَصْرُ = Jam 2 siang القَصْرُ = Jam 3 siang الأصِيلُ = Jam 4 sore العَشِيُّ = Jam 5 sore الغُروبُ = Jam 6 sore Jam-jam malam الشَّفَقُ = Jam 7 malam الغَسَقُ = Jam 8 malam العَتَمَةُ = Jam 9 malam السُّدْفَة = Jam 10 malam الفَحْمَةُ = Jam 11 malam الزُّلَّةُ = Jam 12 malam الزُّلْفةُ = Jam 1 dini hari البُهْرَةُ = Jam 2 dini hari السَّحَرُ = Jam 3 dini hari الفَجْرُ  = Jam 4 pagi الصُّبْحُ = Jam 5 pagi الصَّباحُ = Jam 6 pagi Referensi: Fiqh al-Lughoh Wa Sirr al-'Arabiyah~Abu Mansh...

Melihat Washil bin Atha' sebagai seorang Linguis, bukan ideolog

Seorang pakar linguistik dan balāghah yang kepiawaiannya dalam bidang kebahasaan menjadikannya rujukan banyak ahli bahasa Arab. Namun demikian, ia memiliki keterbatasan dalam mengartikulasikan salah satu bunyi, yang dikenal dengan istilah al-lutsghah (اللثغة). Ia tidak mampu melafalkan bunyi rā’ secara fasih. Kekhasan ini bahkan kemudian dikenal luas hingga dijadikan bahan perumpamaan oleh para penyair setelahnya, salah satunya tampak dalam syair pujian Abu Muhammad al-Khāzin kepada Ismail bin ‘Abbād: نعم تجنّبَ "لا" يومَ العطاء # كما تجنّبَ ابنُ عطاء لفظة الرّاء Fakta menarik tentang Wāṣil bin ‘Aṭā’ adalah bahwa ketidakmampuannya mengucapkan bunyi rā’ sama sekali tidak menghambat proses komunikasinya. Justru sebaliknya, ia semakin dikenal dan dikagumi dalam bidang kebahasaan karena kemampuannya menghindari huruf rā’ dalam setiap ujaran. Dengan kata lain, ia tidak pernah mengucapkan huruf rā’ dalam kata maupun kalimat apa pun yang disampaikannya. Setiap kata yang mengandung b...

Mengapa Jama' Lafal مرأة adalah نساء?

Sebagaimana yang kita ketahui bahwa lafadh مرأة adalah bentuk muannats dari lafadh مرء (seorang laki laki), sehingga bisa kita fahami bersama bahwa penambahan huruf ta' marbuthohnya adalah sebagai tanda makna muannats (perempuan). Selanjutnya kita juga perlu memahami bahwa di dalam bahasa Arab ada beberapa macam bentuk jama' diantaranya bentuk jama' mudzakkar salim, muannats salim, jama' taksir, dll. Pada macam jama' taksir juga dibagi bagi lagi diantaranya adalah bentuk jama' yang masih menjaga huruf asal bentuk lafadh mufrodnya seperti lafadh  كتاب yang dijama'kan menjadi kata كتب, dalam hal ini huruf yang tidak dirubah keberadaanya adalah huruf ك-ت-ب, selain itu juga ada jama' taksir yang bentuknya berubah dari lafadh mufrodnya seperti bentuk jama' lafadh مرأة adalah نساء, kedua lafadh ini tidak ada kaitan asal muasal kata, karena lafaddh مرأة terdiri dari huruf asal م-ر-أ sedangkan lafadh نساء terdiri dari huruf asal ن-س-أ dengan demikian dapat d...

KRITIK OBJEKTIF TERHADAP KITAB AL-AJURUMIYAH SEBAGAI SEBUAH BAHAN AJAR

Sebelum memulai tulisan singkat dan sederhana ini, saya ingin mengutip ungkapan menarik dari salah satu Kawan hebat kami, yaitu Mas Wahyu Hidayat (Majalah Tebuireng) Beliau mengatakan: “Kritik adalah bentuk sayang paling dalam”      Tentu dapat kita pastikan bahwa kitab al-Ajurumiyah belum bisa dikatakan sebagai “kitab referensi” yang dimaksudkan dengan “kitab referensi” adalah kitab atau buku yang berisikan materi-materi ilmu Nahwu secara detail dan mendalam. sebagai contoh buku referensi Nahwu, saya kira Kitab “Jami’ Ad-Durus Al-Arabiyah” karangan Syekh Mustafa Al-Gholayaini dapat mewakili konsepsi “buku referensi Nahwu” .  Sebab di dalam kitab tersebut dipaparkan begitu banyak kaidah-kaidah Nahwu dan detail entah itu yang bersifat umum ataupun asing. Dari hal tersebut secara pribadi dan secara objektif tentunya kitab para Al-AJurumiyah belum bisa dikatakan sebagai kitab referensi. Dapat dipastikan juga bahwa kitab Al-Ajurumiyah tidak menyertakan konsepsi Isim da...