Bahasa Ilmiah dan Ilusi Kecerdasan

Kemampuan menggunakan istilah ilmiah tidak serta-merta menunjukkan kecerdasan seseorang. Bahasa yang tampak “tinggi” belum tentu mencerminkan kedalaman berpikir.

Pengalaman ini saya temui dalam perkuliahan Pengembangan Pembelajaran Bahasa Arab di UIN Malang(lebih tepatnya pada "Pengembangan pembelajaran Qiro'ah bagi peserta didik berkebutuhan khusus") . 

Saat itu, dosen kami melempar pertanyaan: apa istilah yang tepat untuk menggambarkan hubungan timbal balik antara guru dan peserta didik—saling merespons, mengkritik, dan bertukar pendapat?

Sebagian besar dari kami menjawab, “hubungan resiprokal.” Secara konsep, kami merasa jawaban itu tepat. Namun, beliau justru menanggapi, “Bahasa apa itu?”

Kami menjawab, “bahasa ilmiah, ustadz.”

Beliau tersenyum, lalu meluruskan:

“Bahasa ilmiah bukan soal istilah yang terdengar canggih, tetapi bahasa yang logis dan mudah dipahami. Jika sulit dicerna, maka itu bukan bahasa ilmiah—melainkan bahasa yang gagal menyampaikan maksud.”

Sejak itu saya menyadari, tujuan utama berbahasa bukanlah terlihat pintar, melainkan memastikan makna sampai dengan jelas kepada orang lain.

Memang, dalam praktiknya, istilah ilmiah tetap diperlukan—terutama ketika suatu konsep terlalu panjang jika dijelaskan berulang-ulang. Namun, penggunaannya harus proporsional: mempermudah, bukan justru mengaburkan.

Misalnya, alih-alih menulis panjang tentang perbedaan struktur bahasa arab dan ibu—baik dalam tataran sintaksis, morfologi dan semantik—, minat dan bakat peserta didik, metode, kurikulum, lingkungan belajar dan sebagainya yang kaitannya dengan pembelajaran bahasa Arab, kita bisa merangkumnya menjadi:

“Pembelajaran bahasa Arab bagi non-native speaker arabic berkaitan erat dengan sistem internal dan eksternal bahasa tersebut.”

Sederhana, tetapi tetap mencakup makna.

Pada akhirnya, kecerdasan dalam berbahasa tidak diukur dari seberapa rumit istilah yang digunakan, melainkan dari seberapa jernih makna yang berhasil disampaikan.


Wallahu A'alam

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Bahasa Terhadap "Berbagai" dan "Pelbagai"

Uji Legalitas Bahasa Terhadap Kata "Solutif"

Langit Yang Masih Sama, Tapi Cinta Telah Tiada