Jika bahasa Arab bukan bahasa Al-Qur'an

Salah satu kawan baik kami yang sekarang sedang melanjutkan studi di Suriah memberikan informasi bahwa, kata الاستراحة yang makna asalnya "istirahat" dalam lingkungan tertentu bisa bermakna "tawaran kepada pria untuk tidur bersama dengan pekerja seks komersial(PSK)".

Kadang aku berpikir bahwa:

Dengan segala dialek yang ada, penggunaan kosakata yang berbeda antara satu negara Arab dengan Arab lainnya, itu disebabkan karena "Eksklusivisme berlebih negara Arab sendiri atas negara-negara Arab lainnya".

Dan kiranya, bangsa Indonesia memiliki moralitas bahasa yang lebih unggul, sebab kenapa? Karena bahasa Indonesia menjadi bahasa nasional bagi semua bahasa daerah lainnya, dan dapat dipastikan tidak ada perbedaan dialek bahasa Indonesia antar satu individu dengan individu lainnya.

Sedangkan bangsa Arab, yang menjadikan bahasa Arab sebagai bahasa nasional mereka sekaligus bahasa sehari-hari, justru menimbulkan banyak dialek yang "menyebalkan", dengan kata lain; kok isok, bahasa daerahe podo dan bahasa nasionalnya juga sama, kok bisa sampek memunculkan gelombang dialek sebegitu derasnya, itu apa-apa.an.

Normalnya, seharusnya hal tersebut besar terjadi pada negara seperti Indonesia, karena semua bahasanya tidak serumpun satu sama lain.

Keunggulan bahasa Arab hanya disebabkan karena ia menjadi Bahasa dari Al-Qur'an dan Hadits, tanpa keduanya tak kan ada pengembangan ilmu pengetahuan Islam.

Lantas, bagaimana jadinya jika Bahasa Arab bukan merupakan bahasa yang dipilih oleh Tuhan?.


On process........loading.........to be continued

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Bahasa Terhadap "Berbagai" dan "Pelbagai"

Uji Legalitas Bahasa Terhadap Kata "Solutif"

Langit Yang Masih Sama, Tapi Cinta Telah Tiada