Jika Bahasa Arab Bukan Bahasa Al-Qur'an

Sebagaimana kita ketahui bahwa, bahasa Arab memiliki karakteristik yang begitu luar biasa, yang kelak justru akan menjadi sebuah "senjata makan tuan" bagian orang Arab sendiri, dan menjadi "bom waktu" bagi non native speaker arabic. Dengan demikian, statement dari Abdullah bin Muslim bin Qutaibah tak dapat ditelan mentah-mentah, beliau berkata:


إذا سرك أن تعظم في عين من كنت في عينه صغيرا، ويصغر في عينك من كان في عينك عظيما فتعلم العربية، فإنها تجريك على المنطق وتدنيك من السلطان


"Jika engkau senang menjadi besar di mata orang yang menganggapmu kecil, dan melihat kecil orang yang kau anggap besar, maka belajarlah bahasa Arab. Sebab, bahasa itu akan membawamu kepada logika dan mendekatkanmu kepada kekuasaan."

Namun, tak bisa dibenarkan juga jika ada yang beranggapan bahwa statement di atas salah atau keliru, sebab bahasa Arab memang menjadi sebuah bahasa dengan kompleksitas yang paling tinggi, dengan demikian jika ada orang yang menguasai bahasa Arab maka ia termasuk individu yang luar biasa. Kemudian, logika di atas dalam aspek yang lain justru dapat bersifat kontradiktif menjadi, sebab bahasa Arab memiliki kompleksitas yang begitu komprehensif, maka ia justru mudah dilupakan(tidak dipelajari). Berdasarkan dua paragraf di atas, lagi-lagi dapat kita simpulkan bahwa keunggulan bahasa Arab secara eksternal dan internal disebabkan karena ia menjadi bahan doktrinasi dari statement yang berbunyi: Bahasa Arab merupakan bahasa Al-Qur'an dan Al-Hadist.

Kemudian, mari kita beralih ke analisa yang lebih objektif.

Secara morfologis, bahasa Arab memiliki kelebihan, yaitu

Proses derivasi(tashrif) yang begitu sistematis dan detail, ntah itu berupa Tashrif Ishtilahi atau Lughowi

Secara Sintaksis, bahasa Arab memiliki tingkat gaya sintaksis yang begitu luwes, variatif, namun begitu mengikat.

Secara semantik, bahasa Arab memiliki konsepsi makna yang begitu deras dan mendalam, dibuktikan dengan:

Konsep sinonimi bahasa Arab melebihi bahasa-bahasa lainnya, begitu pula dengan Antonim, Hiponim, Homonimi, Polisemi.

Dengan segala objektifitas di atas tentu menimbulkan ambiguitas terhadap hal-hal yang berkaitan dengannya, misalnya apa metode yang cocok untuk mengajarkan balagah dan sebagainya.

Konsep mempermudah bahasa Arab(Taisir Al-Lughoh Al-'Arabiyah) sebenarnya telah dimunculkan ke permukaan sejak abad 20 terakhir, hingga melahirkan begitu banyak buku, artikel, hasil penelitian yang ditulis langsung oleh pelajar-pelajar Arab, linguis Arab, dan lembaga resmi bahasa Arab.

Namun, dapat dipastikan bahwa konsep Taisir tersebut hanya berfokus pada hal-hal eksternal bahasa Arab, sebab menurut mereka konsep internal bahasa Arab tak boleh dan tak dapat diubah, semisal mengenai i'rob, semantik, dan sebagainya.

Kendati linguis Arab membatasi konsep Taisir Al-Lughoh Al-Arabiyah hanya terpaut pada konsep eksternal saja, namun sebenarnya hal tersebut justru menunjukkan sifat ekslusifisme berlebih orang Arab.


To be Continued.......

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Bahasa Terhadap "Berbagai" dan "Pelbagai"

Uji Legalitas Bahasa Terhadap Kata "Solutif"

Langit Yang Masih Sama, Tapi Cinta Telah Tiada