Perkembangan Bahasa Arab(Pungtuasi dalam bahasa Arab)
Bahasa Arab awal mulanya tidak mengenal pungtuasi(tanda baca) layaknya koma(al-fashilah), titik(an-nuqthoh), tanda tanya(al-istifham) dan sebagainya. Sejalan dengan perkembangan penulisan di dunia Internasional, bahasa Arab kembali memberanikan diri untuk mengadopsi pungtuasi layaknya bahasa-bahasa non semitik, hingga pada akhirnya bahasa Arab mengenal tanda baca dan diimplementasikan dalam bentuk tulisan yang bisa ditemui dalam karya-karya bahasa Arab modern dan kontemporer.
Namun, pada dasarnya, bahasa Arab memang sudah mengenal tanda baca sejak awal kemunculannya di dunia, hanya saja tanda baca yang digunakan tidak berupa simbol-simbol atau tanda-tanda karakter tertentu, tapi tetap menggunakan huruf-huruf hijaiyah sebagaimana dalam Al-Quran Al-Karim, As-sunnah, dan kitab-kitab Arab klasik.
Wawu dalam bahasa Arab secara fungsional tidak hanya berperan sebagai huruf koordinatif, tapi berperan pula sebagai tanda 'koma', contoh misalnya:
وَمَنْ يُّطِعِ اللّٰهَ وَرَسُوْلَهٗ يُدْخِلْهُ جَنّٰتٍ تَجْرِيْ مِنْ تَحْتِهَا الْاَنْهٰرُ خٰلِدِيْنَ فِيْهَاۗ
Bisa diterjemahkan dengan :
Siapa saja yang taat kepada Allah, Rasul-Nya, Dia akan memasukkannya ke dalam surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. (Mereka) kekal di dalamnya.
Contoh titik dua(Al-Qothiatani)
ذٰلِكَ الْكِتٰبُ لَا رَيْبَۛ فِيْهِۛ هُدًى لِّلْمُتَّقِيْنَۙ، الَّذِيْنَ يُؤْمِنُوْنَ بِالْغَيْبِ وَيُقِيْمُوْنَ الصَّلٰوةَ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَۙ
Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa: orang-orang yang beriman pada yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka,
Kemudian, secara teoritis, hanya ada satu alasan pokok mengapa bahasa Arab mengadopsi tanda baca dalam perkembangannya sejauh ini, yakni guna memudahkan pemahaman bagi pembaca ketika membaca teks-teks berbahasa Arab, dikarenakan terdapat gap antara bahasa Arab sebagai bahasa Lisan dan bahasa Arab sebagai bahasa Tulis. Bisa dipastikan bahwa, bahasa Arab sebagai bahasa lisan lebih mudah dipahami karena disertai aspek paralinguistik, seperti ekspresi, mimik wajah, intonasi suara, dan lain sebagainya, sedangkan bahasa Arab sebagai bahasa tulis tidak mengenal aspek paralinguistik. Dari hal tersebut, maka dianggap penting lah untuk mengadopsi tanda baca dalam perkembangan bahasa Arab saat ini. Namun, bisa dipastikan juga bahwa pungtuasi(mewakili aspek paralinguistik) dalam bahasa Arab sebagai bahasa tulis masih belum mampu memberikan dampak positif yang optimal, oleh karena itu tetap diperlukan pula pemahaman yang cukup(setidaknya) terhadap keilmuan yang lain, seperti semantik, mantiq, cita rasa bahasa, ushul fiqh, dan sebagainya.
Komentar
Posting Komentar