Teori Problematika Pembelajaran Nahwu
Dalam berbagai penelitian yang mengkaji tentang problematika pembelajaran Nahwu maupun Shorf, seringkali teori yang digunakan ialah teori dari Aziz Fahrurrozi salah seorang dosen di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta yang berbicara tentang "Problematika Pembelajaran Bahasa Arab", yang secara umum problematikanya terbagi dua konsep umum, yakni Problematika Kebahasaan(linguistik) dan Non Kebahasaan(Non linguistik).
Penyimpulan mengenai paragraf di atas berdasarkan hasil analisa kami terhadap 10-15 hasil penelitian mengenai Problematika Pembelajaran Nahwu atau Shorf yang alat analisanya menggunakan teori dari Aziz Fahrurrozi.
Problematika Linguistik sendiri merupakan sebuah masalah dalam pembelajaran bahasa Arab yang disebabkan oleh bahasa Arab itu sendiri, dengan kata lain aspek-aspek internal bahasa Arab justru menjadi sebuah faktor yang memunculkan suatu problematika dalam proses pembelajaran bahasa Arab di Indonesia, seperti problematika morfologis, problematika sintaksis, problematika leksikal dan lain sebagainya. Umi Mahcmudah(salah satu dosen kami di Program Pascasarjana Pendidikan Bahasa Arab dalam mata kuliah Teknologi Pembelajaran Bahasa Arab), menyampaikan bahwa, "Karakteristik bahasa Arab itu sendiri lah yang menyebabkan pembelajaran bahasa Arab di Indonesia mengalami berbagai problematika".
Problematika non kebahasaan berkaitan dengan faktor di luar aspek linguistik bahasa Arab itu sendiri, dengan kata lain aspek eksternal pembelajaran bahasa Arab menjadi sebab atas kemunculan suatu problematika mengenai pembelajaran bahasa Arab itu sendiri, seperti metode pembelajaran, media pembelajaran, pendekatan pembelajaran, guru, minat dan bakat, bahan ajar dan lain sebagainya.
Dalam beberapa literatur arab klasik seperti kitab Ushul At-Tadris Al-Lughoh Al-Arabiyah dan Tadris Funun Al-Lughoh Al-'Arabiyah, memang terdapat pembahasan atau sub tema yang menjelaskan tentang problematika pembelajaran nahwu namun tidak ter-sistematis seperti teori dari Fahrurrozi di atas.
Namun, ada beberapa indikasi menurut kami yang bisa dijadikan sebuah hipotesis awal mengenai teori problematika pembelajaran nahwu yang disimpulkan dari berbagai literatur yang ada, yang kemudian diatur kembali sedemikian rupa, sebagaimana berikut:
Problematika nahwu dan pembelajarannya secara umum terbagi menjadi 2 jenis, yaitu Ambiguitas linguistik dan problematika sekunder.
Ambiguitas Linguistik sendiri merupakan sebuah problem yang menyebabkan materi ajar nahwu cukup sulit untuk dipahami oleh peserta didik. Faktor-faktor yang menyebabkan hal tersebut di antaranya:
1. Beberapa istilah atau konsep nahwu (materi ajar) yang tidak ditemukan padanannya dalam bahasa Indonesia.
Sedangkan problematika semi sekunder Linguistik sendiri merupakan problem yang sebenarnya dalam beberapa kondisi sangat berdampak namun di lain sisi tidak memberikan dampak signifikan.
1. Kemampuan peserta didik yang kurang terhadap pemahaman tata bahasa Bahasa Nasionalnya(dalam pembahasan ini B. Indonesia).
2. Kemampuan guru yang kurang terhadap pemahaman tata bahasa Indonesia
3. Metode pembelajaran klasik yang tidak mengalami pengembangan
Beberapa faktor eksternal lainnya, sengaja tidak kami masukkan, karena kami menganggap hal tersebut tidak memberikan dampak yang signifikan, seperti media pembelajaran.
Tulisan ini merupakan upaya kecil-kecilan untuk berusaha terlebih dahulu menemukan teori murni problematika nahwu, karena dari berbagai literatur yang kami baca, ntah itu hasil penelitian berbahasa indonesia maupun arab dan kitab-kitab klasik yang bertemakan pembelajaran bahasa Arab masih belum ditemukan sebuah teori umum layaknya teori problematika pembelajaran di paragraf awal.
Komentar
Posting Komentar