Rekonstruksi Ilmu Nahwu berbasis Pendekatan Linguistik Bahasa Indonesia

Proses penerjemahan dalam dunia peradaban Islam menjadi salah satu media paling berpengaruh dalam perkembangan peradaban ilmu pengetahuan dunia Islam.

Tak dapat dipungkiri bahwa tanpa terjadinya kegiatan menerjemah pada masa itu, kaum muslimin tak akan mengenal konsep ilmu pengetahuan yang berasal dari peradaban lainnya seperti Yunani misalnya.

Pembelajaran ilmu Nahwu yang dipelajari oleh non native speaker Arabic, pasti melalui proses penerjemahan dengan menggunakan jenis metode pembelajaran apapun. 

Proses penerjemahan yang terjadi dalam proses belajar maupun pembelajaran Nahwu tentu berbeda satu dengan yang lainnya, diantaranya, terdapat penggunaan bahasa Pegon-Arab dalam proses pemaknaan kitab kuning di dunia pesantren Salaf, ada juga yang menggunakan terjemahan perkata dalam menjelaskan suatu istilah ilmu Nahwu, ada pula yang menggunakan terjemahan tekstual per kalimat, dan ada pula yang menerjemahkan langsung terhadap satu paragraf penuh dengan bentuk terjemahan bebas (maknawi).

Dengan demikian, konsepsi pembelajaran Nahwu berbasis linguistik bahasa Indonesia dianggap penting, sekaligus menjadi pembaharuan dalam proses rekonstruksi ilmu Nahwu abad ini. 

Implikasi positif yang ditimbulkan dari rekonstruksi tersebut dalam aspek psikologis ialah timbulnya proyeksi imajinatif mengenai suatu keadaan istilah Nahwu dalam aspek bahasa Indonesianya, hal tersebut bisa diilustrasikan sebagai berikut:

"Suatu ketika saya menjelaskan konsep Isim pada beberapa santri dalam suatu pondok pesantren misalnya. Sebelum menjelaskan konsep Isim dalam kitab tersebut, terlebih dahulu saya menjabarkan tentang Isim dalam sudut pandang bahasa Indonesia, dengan mengatakan: Isim adalah kata benda atau nomina, ia merupakan kelas kata yang menyatakan nama dari seseorang tempat atau semua benda dan segala yang dibendakan".

Dengan kata lain Isim adalah lafal yang menunjukkan tentang manusia, hewan, tempat, tumbuh-tumbuhan dan lain sebagainya. Semoga berkat ilustrasi di atas, memudahkan para pembaca untuk memahami tentang proyeksi imajinatif mengenai ilmu Nahwu dalam aspek bahasa Indonesia.

Implikasi logis yang lain lupa pemahaman siswa terhadap istilah-istilah tersebut sesuai dengan bahasa nasional mereka dalam hal ini bahasa Indonesia. Kemungkinan besar proyeksi pikiran siswa yang akan terjadi dapat diilustrasikan sebagai berikut pula: 

"Oh ternyata, Isim itu kata benda, berarti mubtada itu adalah kata benda yang jatuh di awal kalimat, maka susunannya menjadi subjek mengikuti pola SPOK". Melalui hal tersebut pula, peserta didik akan mempunyai pemahaman konsep dasar sebelum melangkah lebih jauh mengenai materi Nahwu yang akan diajarkan.

Secara faktual, tak dapat dipungkiri bahwa, terdapat beberapa konsep dalam ilmu Nahwu yang tidak atau bahkan tidak akan ditemukan padanan konsepnya dalam bahasa Indonesia, seperti:

al-'Irob, Tanwin, Isytighol al-'Amil an al-Ma'mul, dan sebagainya(tidak semuanya). 

Kemudian beberapa istilah dalam ilmu Nahwu, memang sudah ditemukan padanan konsepnya dalam bahasa Indonesia, walaupun sepenuhnya tidak dapat mewakili istilah Nahwu tersebut. 

Namun hal tersebut bisa dijadikan sebagai acuan atau elemen dasar dalam memahami konsep istilah tersebut, tentunya dengan melakukan pengembangan-pengembangan secara masif, agar mampu mewakili istilah-istilah dalam ilmu Nahwu (sekali lagi) walaupun tidak secara sempurna. 

Beberapa istilah Nahwu yang ditemukan padanannya dalam konsep bahasa Indonesia dapat dilihat sebagaimana berikut:

Isim=Nomina; 
Fi'il=Verba;
Dhomir=Pronomina; 
hurufAthaf=hurufkoordinatif; Taukid=penegasan;
Nafi=Negasi;
Fi'il Muta'addi=K.K Aktif; 
Fi'il Lazim=K.K Pasif;
Isim Mushoggor=Deminitif;
Af'al al-Roja'=Kata Optatif;
Mashdar=Nomina yang mengalami proses Afiksasi(prefiks dan sufiks);
dan lain sebagainya.

Sebagai bentuk proses rekonstruksi ilmu Nahwu, kami akan mencoba memaparkan kembali istilah-istilah Nahwu tersebut dengan pendekatan linguistik bahasa Indonesia berdasarkan urutan materi dalam kitab al-Ajurumiyah, sebelum masuk pada kitab yang lebih kompleks.

Mengenai hal tersebut akan kami paparkan dalam tulisan-tulisan yang selanjutnya.

Insya Allah Syukron Jazilan. Wassalam.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Bahasa Terhadap "Berbagai" dan "Pelbagai"

Uji Legalitas Bahasa Terhadap Kata "Solutif"

Langit Yang Masih Sama, Tapi Cinta Telah Tiada