Perkembangan Ilmu Shorf Dalam Peradaban Bahasa Arab Modern
Dalam Muqaddimah-nya Ibnu Khaldun menjadikan ilmu Nahwu dan Shorf menjadi salah dua pokok ilmuwan penting Bahasa Arab(العلوم الأساسية العربية).
Pada masa awal kelahiran Nahwu dan Shorf sebagai sebuah ilmu pengetahuan, dilandasi terhadap hal yang bersifat klasikal, yakni agar terhindar dari kesalahan membaca Alquran dan Al-Ahadist An Nabawiyah yang mana implikasi dari kesalahan membaca tersebut menyebabkan Alquran dan Al Hadits tidak dipahami secara benar.
Selama perjalanannya sejauh ini ilmu shorof tidak mengalami perubahan dalam aspek internalnya yang terjadi hanyalah pengembangan-pengembangan istilah saja seperti:
Fi'Il Tsulatsi Mujarrod= Kata Kerja Triliteral
Fi'il Ruba'i Mujarrod= Kata Kerja Dwiliteral
Fi'il Khumasi Mujarrod= Kata Kerja Pentaliteral
Fi'il Sudasi Mujarrod= Kata Kerja Heksaliteral; dan lain sebagainya.
Masuk pada abad modern-saat ini, ilmu Shorf mulai mengalami malfungsi internal, yang dimaksudkan ialah terdapat beberapa pola wazan penashrifan yang sudah jarang digunakan, ntah itu dalam tataran bahasa lisan maupun tulis, diantara wazan tersebut ialah wazan isim zaman, makan, dan isim alat. Faktanya, penggunaan tiga wazan tersebut seringkali digantikan dengan bentuk isim jamid, maksudnya ialah untuk menghendaki pembuatan keterangan waktu, tempat, dan isim alat tersebut tidak melewati proses penashrifan yang ada, namun langsung menggunakan isim Jamidnya.
Pembelajaran shorf dalam dunia pesantren Salaf di Indonesia, terbagi menjadi dua paradigma pokok, ada yang menggunakan paradigma "الفهم بعد الحفظ"(Paham iku sakwese hafal), dan ada yang menggunakan paradigma "الحفظ بعد الفهم"(Hafal iku sakwese paham). Kemudian, implikasi yang ditimbulkan dari pemahaman paradigma di atas, mempunyai konsekuensi konsep pembelajaran yang berbeda, sebagaimana yang terjadi dalam beberapa pesantren Salaf yang menganut salah satu paradigma di atas.
Kemudian, ilmu Shorf dan kaitannya dengan pembelajaran abad ini, sebaiknya dialihkan dari yang awalnya menggunakan metode induktif menjadi metode deduktif. Metode Induktif secara praktikal, diawali dengan penjelasan materi kemudian contoh dari materi tersebut. Sedangkan metode deduktif diawali dengan pemberian contoh, baru kemudian penjelasan materinya. Beberapa rekomendasi yang lain, akan kami tuliskan dalam bentuk poin, karena wes males nulis panjang lebar, diantaranya:
1. Pembelajaran ilmu Shorf tidak boleh dilepaskan dari basis hafalan
2. Pembelajaran tentang I'lal harus bersifat praktis.
3. Teori-teori mengenai ilmu Shorf(misalnya penjelasan tentang "kenapa Ruba'i Mujarrod hanya terdiri dari satu bab") tak perlu di dalami lebih jauh dalam program pembelajaran, kalau belajar mandiri monggo didalami.
Matur Nuwun
Komentar
Posting Komentar