Modernisasi Materi Nahwu Abad Kontemporer dan pembelajarannya
Modernisasi Materi Nahwu Abad Kontemporer dan pembelajarannya
Nahwu akan senantiasa tetap menjadi salah satu cabang keilmuan penting dalam bahasa Arab, dengan catatan selama bahasa Arab itu masih populer dalam kehidupan manusia. Bahasa Yunani misalnya, dalam penggunaannya secara bahasa lisan, ia sudah tak populer dalam kehidupan manusia, namun masih populer dalam aspek bahasa tulisnya, oleh karena itu sering ditemukan dalam buku-buku, jurnal ilmiah, skripsi, tesis bahkan disertasi yang pengambilan akar kata suatu istilah diambil dari bahasa yunani.
Perkembangan nahwu dari masa ke masa dapat dikategorikan menjadi tiga kategori, yaitu:
Nahwu teoritis(Nadzhori), kemudian beralih ke nahwu Praktis(Tathbiqi), dan kemudian beralih ke Nahwu Fungsional(Wadzhifi).
Nahwu teoritis sendiri mempunyai beberapa indikasi, diantaranya:
1. Materi yang dituliskan sangat detail
2. Perbedaan ulama nahwu mengenai satu hal dalam ilmu nahwu dijadikan pembahasan penting dan tidak boleh dilewatkan
3. Qoidah-qoidah ghorib juga disampaikan dalam kitab tersebut.
Sedangkan nahwu tathbiqi lebih bersifat pada hal yang bisa diterapkan walaupun itu menyulitkan, asalkan bisa diterapkan dalam bahasa lisan maupun tulis, maka ia menjadi salah satu hal yang harus dipelajari.
Kemudian, yang terakhir ialah nahwu wadhifi, sebuah konsep nahwu yang hanya menyajikan qoidah-qoidah yang sering dijumpai, tanpa melibatkan hal-hal lain yang mengikutinya, misalnya analisa i'rob tak diperlukan dalam aspek nahwu wadhifi.
Modernisasi yang kami maksud ialah mengatur ulang ilmu nahwu tanpa merubah teks-teks klasik yang sudah ada.
Penerapan modernisasi dalam penulisan kali ini kami formulakan dengan cara memberikan poin-poin berupa solusi alternatif, sebagaimana berikut:
1. Dalam pembelajaran nahwu, contoh yang diberikan harus bersifat variatif dan yang sering dijumpai oleh peserta didik, jadi jangan melulu tentang جاء زيد، رأيت زيدا، مررت بزيد، melainkan harus lebih variatif.
2. Dalam kitab Al-Ajurumiyah, tidak ditemukan definisi mengenai Isim, Fiil, dan huruf, yang ada hanyalah tentang tanda-tanda dari tiga hal tersebut, dengan demikian sebelum membahas tentang tanda-tanda dari tiga istilah tersebut, harus diberikan definisi yang jelas tentang isim, fiil, dan huruf, dan itu berlaku juga dengan istilah-istilah lain dalam ilmu nahwu.
3. Harus berbasis pendekatan linguistik bahasa Indonesia, misalnya isim adalah nomina, fiil adalah kata kerja, naat man'ut adalah frasa adjektival, Fail adalah subjek, khobar adalah komplemen pelengkap, adad ma'dud adalah frasa numeral dan lain sebagainya.
4. pengurutan materi, lebih-lebih dalam kitab alfiyah ibn malik, seperti contoh: suatu bab dalam alfiyah ibn malik memberikan pembahasan lain yang ada kaitannya dengan pembahasan yang ada di depan. Namun tentunya, hal tersebut membutuhkan analisa lebih lanjut.
5. Materi yang ghorib atau yang sulit harus tetap diajarkan, dengan catatanya, penjelasan yang diberikan menggunakan gaya bahasa yang lain, yang tidak tercerabut maknanya sesuai lafadz istilah nahwu yang ada.
Sekian dan terimakasih
Komentar
Posting Komentar