Ketika Tuhan Tak Pernah Salah
Antara harapan, manusia, dan takdir.
Ada yang bilang, sakit yang disengaja adalah berharap kepada manusia. Sebuah aforisme yang menunjukkan tentang "keegoisan manusia terhadap orang lain, yang tak pernah mau tuk disalahkan". Seakan-akan manusia dianggap sebagai penyebab dari luka yang dirasakan, dianggap sebagai makhluk yang senantiasa mengajarkan derita dan cerita luka.
Berbanding terbalik terhadap perlakuan mereka terhadap Tuhan. Bukankah, begitu banyak harapan manusia yang belum terkabulkan atau bahkan tak akan dikabulkan oleh-Nya, namun manusia senantiasa beranggapan "Mungkin Tuhan, sedang mempersiapkan yang terbaik atas hambanya". Lantas, itu tidak adil namanya, jika hanya Tuhan yang tak boleh dibenci, andai saja, manusia punya kemampuan seperti tuhan, maka manusia tak akan pernah membenci manusia, tak pernah menganggap "berharap kepada manusia adalah luka yang disengaja", karena bukan harapannya yang salah, tapi tentang bukan dia orang yang tepat untuk berharap.
Ada yang bilang, satu-satunya tempat berharap yang terbaik adalah "Tuhan, bukan manusia", jika diajukan sebuah pertanyaan dasar mengenai hal tersebut, "Mengapa Tuhan dianggap sebagai satu-satunya tempat menaruh harapan"? maka saya akan menjawab "karena ia tak pernah memberitahukan takdir seperti apa yang akan dijalani oleh makhluknya", andai saja ia membocorkan semua takdirnya kepada makhluknya, maka senantiasa, kita akan cukup percaya diri untuk menagih janji-janjinya.
Komentar
Posting Komentar