Peran Sosiolinguistik dalam Kehidupan Beragama

 


Bisa dipastikan bahwa, tidak ada satu jenis atau alat komunikasi apapun yang mampu menyaingi komunikasi bahasa manusia ntah itu secara lisan maupun tertulis.

Bahasa menjadi sebuah salah satu hal yang menjadi kebutuhan primer manusia, walaupun nanti, bahasa dengan sendirinya akan terbagi secara sosial-kultural, diantaranya bahasa tulis, bahasa isyarat, dan bahkan kode morse. Namun, tidak bisa dinafikan, semua macam-macam tersebut ditimbulkan oleh bahasa Lisan manusia itu sendiri.

Berbicara mengenai bahasa, maka kita harus berbica mengenai sejarah kelahiran dan syarat-syarat bahasa.

Mengenai sejarah kelahiran bahasa, terdapat beberapa teori dasar mengenai hal tersebut, diantaranya:

  1. Teori Intuisi Ilahiyah (نظرية الإلهام والتوقيف)
  2. Teori Konsensus/Kesepakatan (نظرية الإتفاق والمواضعة)
  3. Teori Peniruan (نظرية المحاكة)
  4. Teori Interjections (نظرية الغريزة الخاصة)
  5. Teori Ya-He-Ho (الأصوات الجماعية)

Secara singkat, akan kami berikan penjelasan mengenai beberapa teori tersebut.

Untuk teori Intuisi Ilahiyah, dianggap sebagai satu-satunya teori dengan kerelatifan yang begitu rendah, Syaikh Al-Jurjani yang merupakan salah satu yang menyetujui hal tersebut sebagai bentuk penguatan. 

Di buku Pengantar Filsafat karangan Prof. Sutardjo, dikatakan bahwa, Baginda Nabi Adam A.S diturunkan ke bumi pada tahun 600.000 SM, sebuah tahun yang relatif jauh dengan zaman sekarang, yang mana nanti akan menimbulkan sebuah problem nyata bagi kita yakni keterbatasan analisa dan argumentasi mengenai hal tersebut, namun al-Quran menolak hal tersebut, dengan memunculkan sebuah ayat atau tanda yang berbunyi :

قال الله تعالى: وَعَلَّمَ آدَمَ الأسْمَاءَ كُلَّهَا ثُمَّ عَرَضَهُمْ عَلَى الْمَلائِكَةِ فَقَالَ أَنْبِئُونِي بِأَسْمَاءِ هَؤُلاءِ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ (31) قَالُوا سُبْحَانَكَ لَا عِلْمَ لَنَا إِلا مَا عَلَّمْتَنَا إِنَّكَ أَنْتَ الْعَلِيمُ الْحَكِيمُ (32) قَالَ يَا آدَمُ أَنْبِئْهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ فَلَمَّا أَنْبَأَهُمْ بِأَسْمَائِهِمْ قَالَ أَلَمْ أَقُلْ لَكُمْ إِنِّي أَعْلَمُ غَيْبَ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَأَعْلَمُ مَا تُبْدُونَ وَمَا كُنْتُمْ تَكْتُمُونَ (33)

Berbicara konsekuensi logis, maka hal tersebut benar adanya, bagaimana kita mampu mengenal kosakata tanpa diberitahukan terlebih dahulu oleh seorang ibu semisal, mengenai kosakata tersebut(ini hanya penganalogian. 

Kemudian, jika kita membaca lebih jauh, ada sebuah cerita unik yang dinukil olek Louis Kattsoff di buku Pengantar Filsafatnya, 

diceritakan bahwa pada suatu saat, Hawa melihat sebuah binatang bersama Adam A.S, kemudian secara spontan Hawa berkata "Ini namanya Lembu", nabi Adam pun mengajukan pertanyaan "Mengapa Demikian"?, Siti Hawa menjawab, "Aku tidak tau, itu muncul secara spontan di dalam pikiranku"

(lebih lanjut, bisa dibaca di buku pengantar filsafat, Louis Kattsoff, terbitan UGM Yogyakarta).

Teori ini disebut juga dengan “ مذهب المواضعة والاصطلاح ”, dimana teoriini memperkenalkan bahwa bahasa manusia lahir berdasarkan hasil kreatifitas dan kesepakatan antar sesama manusia. Sebagai contoh,ketika seseorang menemukan sebuah benda keras, lalu benda itu diberinama, nama ini kemudian dipakainya dan dipahami/terima orang lain,maka lahirlah sebuah kata (bahasa).

c. Teori Peniruan (نظرية المحاكاة)
Teori ini menyimpulkan bahwa awal mulanya munculnya bahasamerupakan hasil dari proses peniruan manusai terhadap suara-suaraalmiah yang didengar oleh manusia pertama. Seperti suara hewan,desiran air, hembusan angin, dll. Melalui suara itu, mereka kemudianmembuat bahasa.

d. Teori Interjections  (نظرية الغريزة الخاصة)
Teori ini disebut juga dengan teori pooh-pooh. Teori ini berpendapatbahwa awal mulanya bahasa manusia berbentuk jeritan, rintihan ataupekikan yang keluar secara spontan untuk menyatakan kegembiraandan kesedihan, kemarahan dan kesakitan.

e. Teori Ya-he-ho (الأصوات الجماعية)
Teori ini memberi kesimpulan bahwa bahasa itu muncul seiringdengan kebiasaan manusia untuk berkumpul dengan sesama. Di saatdilakukannya hubungan sosial seperti ini akan muncul bahasa yangmereka sepakati.
Terlepas, dari semua teori,manusia merupakan makhluk yang pasti mengenal sebuah agama, maka sangat tidak menutup kemungkinan atau bahkan pasti ada kekuasaan Tuhan atas segala hal yang diciptakannya, karena ia merupakan sebab pertama dari semua hal yang ada di dunia ini.

Kritikan terhadap teori selain intuisi ilahiyah, saya menganggap 3 dari 4 teori tersebut, sangat terlalu memaksakan akal, agar teori-teori tersebut dianggap sebagai hal yang sangat rasional, sedangkan, jika sebuah bahasa itu merupakan sebuah kesepakatan, maka seharusnya bahasa itu satu, kalaupun semisal kesepakatan bahasanya bersifat lokalitas, maka seharusnya tidak ada perbedaan-perbedaan signifikan mengenai satu bahasa dengan bahasa lainnya, begitu juga dengan yang lainnya.

Namun, dari sudut pandang yang lain, teori-teori tersebut akan menjadi dibutuhkan dalam zaman modern ini, dengan kata lain, akan lahir sebuah kosakata-kosakata baru yang mempunyai landasan filosofi dari subjeknya.

Kemudian, terdapat beberapa syarat atau karakteristik pokok atas suatu bahasa, yaitu:

a. Bahasa itu sebuah sistem lambang berupa bunyi, bersifat arbitrer, produktif, dinamis, beragam serta bersifat manusiawi.

(penjelasan lebih lanjut, bisa dibaca di "Pengantar Sosiolinguistik(Perkenalan Awal) ~Abdul Chaer&Leonie Augustina).

Nahh, kembali ke pembahasan pokoknya, apa peran Sosiolinguistik dalam kehidupan beragama? 
sebelum melanjutkan, alangkah baiknya kita mengetahui apa itu sosiolinguistik.

Terdapat 10 Syarat Fundamental yang digunakan untuk menganalisa, apakah hal tersebut bisa disebut sebagai ilmu pengetahuan atau bukan. 

Delapan syarat tersebut, sering diistilahkan dengan Tsamaniyah Al-Mabadi' (8 Syarat Pokok) yaitu :

  • Ismuhu(Namanya: Sosiolinguistik)
  • Ta'arifuhu(Pengertiannya: Ilmu yang membahasa tentang hubungan bahasa dengan kehidupan masyarakat dan hal-hal yang mengikutinya)
  • Tsamratuhu(Fungsinya: Mampu menyesuaikan bahasa sesuai dengan kondisi, budaya, dan sosial serta pengkontektualisasian bahasa).
  • Wadi'uhu(Ferdinand de Saussure)
  • Hukmuhu(Mubah)
  • Istimdaduhu(Kehidupan Masyarakat) 
  • Maudhu'hu(Temanya: Sosial dan Linguistik)
  • Nisbatuhu(Rumpunnya: Linguistik umum dan Ilmu Sosial)

Kemudian, apakah ada urgensi Sosiolonguistik dalam kehidupan beragama? Jawabannya: Ada.

Mari kita bahas.
Berbicara sosiolinguistik, maka ia tidak boleh dipisahkan dengan Sistem komunikasi, lebih tepatnya Sistem Komunikasi Islam.

Terminologi komunikasi berasal dari kata communicare yang berarti “untuk membuat kesamaan” atau “untuk berbagi”. 

Dalam bahasa Latin  disebut dengan communication atau communis yang artinya “sama” (Pearson dkk, 2000 : 10).

Sementara itu, istilah untuk komunikasi dalam bahasa Arab adalah tawashul. Tawashul berasal dari kata “washala” yang berarti “sampai”. Dengan demikian, tawashul adalah proses pertukaran informasi yang dilakukan oleh dua pihak sehingga pesan yang disampaikan dapat dipahami oleh kedua belah pihak yang melakukan komunikasi.

Istilah lain dalam bahasa Arab untuk merujuk istilah komunikasi adalah ittishal yang lebih menekankan pada makna ketersambungan pesan. Dalam ittishal, jika pesan yang dikirimkan oleh komunikator sampai dan bersambung pada komunikan/komunikate, maka itulah komunikasi dan tidak harus terjadi feedback atau umpan balik.

Secara garis besar, ada beberapa jenis komunikasi yang dikenal oleh masyarakat yaitu: 

  • komunikasi intrapersonal 
  • komunikasi interpersonal atau komunikasi antarpribadi
  • komunikasi organisasi atau komunikasi kelompok 
  • komunikasi massa

Namun, dalam tulisan kali ini, kita akan membatasi mengenai komunikasi dalam perspektif Islam.

prinsip-prinsip komunikasi Islam adalah :
a. Ikhlas 
b. Pahala dan dosa 
c. Kejujuran
d. Kebersihan
e. Berkata positif 
f. Hati, lisan dan perbuatan adalah satu kesatuan
g. Dua telinga satu mulut 
h. Pengawasan 
i.  Selektifitas dan validitas
j.  Saling mempengaruhi
k. Keseimbangan
l.  Privasi.
m. Berkata dengan lemah lembut

Kemudian, yang terpenting selanjutnya, seorang Ulama', presiden, bahkan Habib(Syarif, Syarifah) sekalipun, tidak diperbolehkan untuk terlalu menggunakan tata bahasa baku suatu Bahasa, mengapa demikian? impilkasi dari digunakannya hal tersebut, justru menimbulkan logika berpikir yang bermasalah bagi Masyarakat awam maupun yang berpendidikan, oleh karena itu, sosiolinguistik bersikeras bahwasanya, proses komunikasi tidak hanya terfokus kepada penggunaan bahasa-bahasa baku. 

Dan yang terakhir, sebagai bentuk kritikan juga, Ulama, Habaib, pemuka agama dan presiden harus selalu bersifat Objektif Transformatif, dengan kata lain, sesuaikan pembahasan yang akan dibahas dalam suatu agenda keagamaan, tanpa membahas hal-hal yang sangat-sangat tidak perlu dibahas.

Kok bisa gitu lo, maulid nabi, malah nyambungnya ke pelabelan kata "Lonte atau PSK", hadeeeehhhh, memang yaaa, semoga Tuhan selalu memperhatikan dan menasehatimu.

Dan Wajib diketahui juga oleh mereka-mereka semua mengenai fungsi-fungsi bahasa, diantaranya: 

Selebihnya bisa dibaca di buku "Pengantar Sosiolinguistik~Abdul Chaer dan Leonie Agustina dan buku Madkhal Ila Ilmi Al-Lughoh Al-Ijtima'i~Dr. Afifuddin Dimyathi, terbitan Lisan Arabi.


Terimakasih disampaikan semoga bermanfaat.


Penulis : Guntur Firmansyah
Korektor : Tim Asrama Lentera
Editor : Pak Aji Wahyu

Komentar

  1. Setidaknya Ketika menulis yah fokus ajah kepembahasan. Maulid nabi Ngomongin lonte lah kamu juga itu. Lagih Pembahasan itu ko arahnya malah kesinih akhirnya. Suryadi becanda doong

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahahhahaha...Aku tuh kesel, oleh karena itu tak masukin ke tulisan, tapi frasa itu hanya sebatas angin lewat aja

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Analisis Bahasa Terhadap "Berbagai" dan "Pelbagai"

Uji Legalitas Bahasa Terhadap Kata "Solutif"

Langit Yang Masih Sama, Tapi Cinta Telah Tiada