Empirisme VS Rasionalisme part II
يَعِظُكُمُ اللَّهُ أَنْ تَعُودُوا لِمِثْلِهِ أَبَدًا إِنْ كُنْتُمْ مُؤْمِنِينَ“Allah memperingatkan kamu agar (jangan) kembali memperbuat yang seperti itu selama-lamanya, jika kamu orang-orang yang beriman.” (QS. An Nuur: 17)
Pengalaman ialah guru terbaik dalam kehidupan” suatu maqolah penuh akan makna yang sering tersampaikan melalui sebuah suara keindahan yang kemudian diresapi oleh setiap telinga pendengarnya. Sangat tidak menutup kemungkinan (probabilitas) pengalaman merupakan suatu hal yang setiap detiknya pasti kita alami, karena kehidupan sekalipun merupakan sebuah pengalaman, ntah itu pengalaman masa lalu penuh luka dan duka atau pengalaman yang seakan-akan membuat kita mengerti akan hidup ini, “Melalui dosa/pengalaman, kita bisa dewasa teman”.
Suatu prolog di atas, bukan berarti kita tuliskan tanpa ada argumentasi sekalipun, kalaupun ada seseorang yang mengatakan “Pengalaman bukanlah hal penting” maka sejatinya, pernyataan tersebut terlahir dari pengalaman mereka sendiri tanpa mereka sadari.
Tulisan ini diawali dengan sebuah prolog yang mungkin mewakili segala pengalaman yang teman-teman alami sampai dengan sekarang ini.
Demikian juga halnya, argumen-argumen di atas diperkokoh oleh paham Empirisisme/empirisme salah satu rival abadi untuk paham rasionalisme dalam dunia kefilsafatan.
Sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya jika kita memberikan sebuah definisi etimologi maupun terminologi tentang empirisme, agar menjadi sebuah batasan serta tidak keluar dari koridor pemahaman tersebut. Empirisme secara bahasa (linguistik) merupakan susunan verbal dengan modifikasi rangkap serial, dengan rumus “Nomina + nomina” yakni Empiris + Isme. Jika hal tersebut dikaitkan dengan bahasa Arab, maka frasa tersebut (empirisme) merupakan susunan idhofah (At-Tarkibu Al-Idhofiyyu) “Isim + Isim”.
Kata Empiris sendiri berasal dari bahasa Yunani “empeirin” yang berarti coba-coba atau pengalaman. Sedangkan kata Isme merupakan kata pungutan dari bahasa asing, akan tetapi, lambat laun afiks tersebut menjadi bagian dalam bahasa Indonesia, dengan syarat tidak ditemukannya padanan atau sinonim untuk mengcover hal tersebut serta afiks asing tersebut bermanfaat dalam bahasa Indonesia. Kata Isme dalam KBBI merupakan sebuah sufiks (imbuhan yang terletak di akhir kata) yang mempunyai makna leksikal “kepercayaan berdasarkan politik, sosial, atau ekonomi”.
Terlepas dari kamus KBBI, isme terlahir dari bahasa Yunani ismos yang berarti “aliran”. Secara terminologi kefilsafatan, empirisme ialah suatu aliran dalam filsafat yang menyatakan bahwa semua pengetahuan berasal dari pengalaman manusia, dengan kata lain kaum empirisme berpendirian teguh bahwasanya satu-satunya alat atau cara untuk memperoleh pengetahuan ialah sebuah pengalaman. Seperti yang dinyatakan oleh John Locke (tokoh empirisme termasyhur)
when humans are born, their minds are a kind of empty notebooks (tabula rasa), and in those notebooks sensory experiences are recorded. According to John Locke, the rest of our knowledge is obtained by using and comparing ideas obtained from the first and simple sensing and reflection.
"Pada waktu manusia dilahirkan, akalnya merupakan sejenis buku catatan yang kosong(tabula rasa), dan di dalam buku catatan itulah dicatat pengalaman-pengalaman inderawi. Menurut John Locke, seluruh sisa pengetahuan kita diperoleh dengan jalan menggunakan serta membandingkan ide-ide yang diperoleh dari penginderaan dan refleksi yang pertama-pertama dan sederhana tersebut."
Ia memandang akal sebagai sejenis tempat penampungan, yang secara pasif menerima hasil-hasil penginderaan tersebut. Ini berarti semua pengetahuan dapat dilacak kembali sampai kepada pengalaman-pengalaman inderawi yang pertama-pertama, yang dapat diibaratkan sebagai atom-atom yang menyusun objek-objek material. Apa yang tidak dapat atau tidak perlu dilacak kembali secara demikian itu bukanlah pengetahuan, atau setidak-tidaknya bukanlah pengetahuan mengenai hal-hal yang faktual.
Tabula rasa sendiri merupakan istilah dalam bahasa Latin yang berarti "kertas kosong" merujuk pada pandangan epistemologi bahwa seorang manusia lahir tanpa isi mental bawaan, dengan kata lain "kosong", dan seluruh sumber pengetahuan diperoleh sedikit demi sedikit melalui pengalaman dan persepsi alat indranya terhadap dunia di luar dirinya.
Jika tidak sungkan, tabula rasa tersebut merupakan istilah yang bisa ditemukan dalam Islam yakni Fitrah, seperti yang dikemukakan oleh Nabi Agung Muhammad SAW :
قال صلى الله عليه وسلم : كُلُّ مَوْلُوْدٍ يُوْلَدُ عَلَى الْفِطْرَةِ، فَأَبَوَاهُ يُهَوِّدَانِهِ أَوْ يُنَصِّرَانِهِ أَوْ يُمَجِّسَانِهِ، كَمَثَلِ الْبَهِيْمَةِ تَنْتِجُ الْبَهِيْمَةَ، هَلْ تَرَى فِيْهَا مِنْ جَدْعَاءَ؟
“Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi. Sebagaimana permisalan hewan yang dilahirkan oleh hewan, apakah kalian melihat pada anaknya ada yang terpotong telinganya?
Fitrah sendiri mempunyai definisi yang berbunyi
"الفطرة هي الصفة الأولى التي يكون عليها الإنسان في أول حياته أي خلقته الطبيعية"
Fitrah ialah hal pertama yang dimiliki oleh setiap individu sejak awal kehidupannya.
Menurut hemat kami (dengan mengutarakan apakah kami pantas menjadi seorang muhaddist atau tidak). Fitrah manusia di atas tidak bisa dianalisa oleh siapapun, karena hal tersebut merupakan sebuah enigma yang tidak akan bisa dipahami oleh manusia ketika awal kehiupannya.
Selanjutnya, tabula rasa (fitrah) tersebut merupakan sebuah istilah yang menunjukkan arti "ketiadaan apapun yang dimiliki oleh manusia", bahkan, mungkin akal masih belum bisa diprogram sedemikian rupa untuk memperoleh sebuah pengetahuan, dengan kata lain pengalaman lah yang menjadi alat fundamental untuk mengetahui segala yang di-ketahui, akal tidak bisa menjadi tools untuk memperoleh pengetahuan.
contoh :
Apakah ada hal yang anda peroleh melalui akal ketika awal kehidupan anda?!
Empirisme berpendirian teguh atas cara untuk memperoleh pengetahuan hanya mampu diketahui oleh sebuah pengelaman. Hampir semua penganut empirisme berpendapat demikian juga, jika ada yang tidak berpendapat demikian, sejatinya tetap berpendapat demikian, yang membedakan hanyalah kapasitas/nilai objek manakah yang dijadikan nilai paling murni.
Empirisme mendeklarasikan hal tersebut, bukanlah tanpa disertai argumentatif.
Contoh :
Bagiamana kita mengetahui bahwasanya es itu dingin atau api itu panas?. Bagaimana kita tahu, bahwasanya Sahabat Umar Bin Khattab dibunuh oleh seseorang yang bernama Abu Lukluk? Bagaimana kita mengetahui bentuk sebuah meja, tanpa melihatnya terlebih dahulu, ntah itu secara langsung maupun tidak langsung.
Kemungkinan besar, jawaban yang pasti akan kita lontarkan ialah karena saya mengetahuinya atau mengalaminya secara langsung dengan panca indera, atau karena para pakar mengatakan demikian.
Klasifikasi ilmu pengetahuan abad pertengan memiliki konsep yang berbeda dengan klasifikasi abad modern
- Klasifikasi berdasarkan subjek
- Ilmu pengetahuan ingatan seperti sejarah.
- Ilmu pengetahuan khayalan
- Membicarakan kejadian-kejadian dalam dunia khayal, meskipun berdasar dan untuk keperluan dunia nyata.
- Ilmu pengetahuan akal
- Filsafat
Sedangkan, klasifikasi ilmu pengetahuan abad modern, hanya terbagi menjadi dua bagian, yang mana nantinya, ditambahkan dua bagian lagi oleh Immanuel kant (Pendiri ajaran Fenomenalisme) dua bagian tersebut ialah :
a. Pengetahuan a priori
b. Pengetahuan a posteriori
Pengetahuan a priori ialah pengetahuan yang tidak tergantung pada adanya pengalaman atau, yang ada sebelum pengalaman; pengetahuan a posteriori terjadi sebagai akibat pengalaman (observasi)
Jadi, empirisme termasuk atau mengikuti kebenaran a posteriori, maka pengalamanlah yang menjadikan dasar kebenaran sebuah pengetahuan, ntah itu pengetahuan kerohaniaan atau yang lain.
Corak empirisme mempunyai dua unsur dasar, yakni Yang-mengetahui dan Yang-diketahui. Yang mengetahui ialah subjek yang mengalami atau mengetahui secara sadar yang mampu diungkapkan dengan sebuah frasa atau kalimat (ini menjadi bukti tentang apa Yang-diketahui).
Kesimpulan dan Kritik
Secara garis besar, agama terbagi menjadi dua : Monoteisme (Kepercayaan yang hanya meyakini hanya ada satu Tuhan) dan Politesime (Kepercayaan yang menyakini dua Tuhan atau lebih), dari paham politeisme muncullah tiga sekte yakni deisme, panteisme, dan teisme.
Ketika perang dunia II berkecamuk ada suatu ungkapan yang populer bahwa di dalam lubang-lubang perlindungan tidak ada penganut ateisme. Makna yang dikandung ungkapan itu kiranya menyebutkan bila seseorang terjebak dalam situasi yang membahayakan jiwanya, tentua ia mengakui adanya Tuhan, dalam keadaan semacam itu orang merasakan betapa perlunya Tuhan, dan sebagai konsekuensinya harus mengakui adanya Tuhan. Memang sangat sederhana kedengarannya. Namun, sesungguhnya ini dapat dipakai sebagai petunjuk bahwa dewasa ini masalah-masalah keagamaan kian lams kian menarik perhatian.
Empirisme lahir di Inggris dengan tiga eksponennya adalah David Hume, George Berkeley dan John Locke.
Ajaran empirisme memberikan kebimbangan kepada sains dan agama pada zaman modern filsafat, sehingga dapat diasumsikan mengecilkan peranan akal. Empirisme mewajibkan kita untuk selalu menggunakan sudut pandang subjektif bukan objektif. Mengapa demikian? Sebelum melanjutkan, perlu kita ketahui apa itu pandangan subjektif dan objektif. Akan kami berikan sebuah contoh mudah untuk memberikan pemahaman yang utuh para pembaca.
Contoh :
Ketika anda membeli sebuah hp kemudian berkata “Hp ini harganya mahal” maka ini dinamakan pandangan subjektif ; dan ketika anda mengatakan “HP ini harganya 15.000.000” maka ini dinamakan sudut pandang objektif.
Empirisme mengharuskan kita untuk menggunakan paham subjektif, bahkan untuk mengenal Tuhan. Secara tidak langsung, empirisme (subjektif) akan menimbulkan sebuah argumentatif yang dinamis, variatif, dan tidak statif. Tetapi, bukan berarti sudut pandang subjektif tidak bisa dijadikan sebuah landasan hukum atau penyelesaian dalam suatu problematika.
Kebenaran dalam filsafat memang bersifat relatif, walaupun bersifat relatif, bukan berarti tidak ada suatu hukum atau pendapat yang tidak bisa kita jadikan acuan. Jika, kerelatifan suatu hukum atau pendapat sangatlah sedikit, maka kebenarannya jauh lebih tinggi dibandingkan dengan suatu pendapat yang memiliki kerelatifan yang sangat tinggi, ntah itu, dibuktikan dengan sebuah observasi, survei, atau penelitian.
Maka, pengalaman ketuhanan dalam sudut pandang empirisme memang bersifat subjektif, dengan catatan, ketika anda ditanya tentang “mengapa anda mempercayai Tuhan”, kemudian anda tidak memberikan sebuah jawaban empiris (yang mampu dikatakan melalui sebuah frasa atau panca indera) maka hal tersebut masih belum patut untuk dibenarkan, walaupun anda tetap bersikeras mengatakan “saya mempercayai Tuhan”. Akan tetapi, sekalipun empirisme mengedepankan pengalaman untuk memperoleh pengetahuan, pada akhirnya Tuhan tidak akan bisa dipahami melalui panca indera.
Sebagai bentuk epilog, penulis telah melakukan sebuah diskusi tentang “Apa pengalaman anda tentang Ketuhanan”?, beberapa orang mengajukan pendapat tentang hal tersebut, diantaranya :
- Dari kesalahan, kita mengenal Tuhan.
- Tuhan itu ada di hati
- Tuhan itu memang tidak bisa didikte
- Melalui keterpurukan(pengalaman) kita mampu mengenal-Nya.
Dzat transendental mempunyai ciri dasar yakni “ketiadaan”, jika kita memberikan sebuah definisi rasional maka definisi tersebut justru bersifat kontradiktif dengan “transendental”. Ketiadaannya(berada di luar nalar manusia) menunjukkkanya bahwasanya dia ada.
Sekian dan terimakasih, mohon maaf atas segala kekurangannya.
Wallahu a’alamu bi Al-Showab
Wassalamualaikum Warahamtullah Wabarakatuh.
Sumber bacaan yang lain :
Shahih Al-Bukhori ~ imam Al-Bukhori
Filsafat umum ~ Ahmad Tafsir

okey thank'you for'the share
BalasHapus