Rasionalisme VS Empirisme
قال صلى الله عليه وسلم : " أول ما خلق الله العقل، فقال له : أقبل، فأقبل. ثم قال له : أدبر، فأدبر. فقال : وعزتي وجلالي ما خلقت خلقا أكرم علي منك، بك آخذ، وبك أعطي، وبك أثيب، وبك أعاقب".
Logika ialah ilmu pengetahuan mengenai penyimpulan yang lurus . Pertentangan atau perdebatan yang dialami oleh kaum Rasionalisme dan Empirisme tentang "cara pemerolehan ilmu pengetahuan" menjadi kan keduanya sebagai 2 dari 4 kubu besar kefilsafatan yang memberikan kontribusi besar pada sejarah kefilsafatan abad pertengahan sampai modern ini. Pertentangan argumentatif dua sekte tersebut disebabkan oleh Perbedaan pendapat mereka tentang cara atau alat untuk memperoleh ilmu pengetahuan(ini keterangan umumnnya).
Paham rasionalisme adalah paham filsafat yang mengatakan akal(reason) adalah alat terpenting dalam memperoleh pengetahuan dan memverifikasi pengetahuan. Rasionalisme bukan berarti menafikan sebuah pengalaman untuk memperoleh ilmu pengetahuan, hanya pengalaman dijadikan urutan nomer dua setelah rasional. Rasionalisme mengajarkan bahwa pengetahuan diperoleh dengan cara berpikir logis.
Rasionalisme terbagi menjadi dua, yaitu :
1.Rasionalisme agama (melawan paham autoritas) atau mengkritik suatu agama
2.Rasionalisme filsafat (melawan paham empirisme).
contoh :
Teori matematika yang kebenarannya bersifat universal dan tidak mengandung kerancuan sama sekali.
Ada 4 tokoh besar dalam paham rasionalisme :
1.Rene Descartes (1596-1650)
Descartes dianggap sebagai bapak filsafat.ada beberapa urgensi yang menyebabkan descartes dijuluki bapak filsafat. dialah orang pertama pada zaman modern itu yang membangun filsafat yang berdiri atas keyakinan diri sendiri yang dihasilkan oleh pengetahuan akliah. Dialah orang pertama di akhir abad pertengahan itu yang menyusun argumentasi yang kuat, yang distinct, yang menyimpulkan bahwa dasar filsafat haruslah akal, bukan intuisi (perasaan), bukan iman, bukan ayat suci, bukan yang lainnya).
2.Baruch de Spinoza (1632-1677 M)
3. Gottfried W. Leibniz (1646-1716 M)
4. Georg Wilhelm Friedrich Hegel (1770-1831 M)
Pada dasarnya, jika kita analisa, bisa jadi Empirisme menjadi anak angkat dari seorang Ayah "Rasionalisme", begitu juga sebaliknya, Rasionalisme menjadi anak angkat, jika tidak sungkan mengatakan anak ideologis dari empirisme. Memang agak membingungkan.
hahahahahahha.
Dalam sudut pandang agama (Islam), akal menjadi mahkluk yang berkualitas tinggi yang menempati posisi kedua teratas setelah jiwa, yang dibuktikan oleh pernyataan dari Rasul Allah yang dinukil oleh Al-Ghazali yang berbunyi :
قال صلى الله عليه وسلم : "سألت جبرائيل : ما السؤدد ؟ قال : "العقل" وحقيقة العقل : غزيرة يتهيأ بها إدراك المعلومات النظرية. وكأنه نور يقذف في القلب، به يستعد لإدراك الأشياء، وذلك يتفاوت بتفاوت الغرائز.
Kemudian, pada tulisan kali ini, kita hanya akan membahas tentang paham Rasionalisme saja dalam objek kajian ke-Tuhanan.
Filsafat secara istilah ialah berpikir secara mendalam dengan argumentasi rasional. Definisi tersebut memberikan indikasi bahwasanya rasionalisme menjadi alat paling pertama untuk mengenal/mengetahui segala hal yang ada di dunia ini(komperehensif) sekaligus membuktikan bahwasanya rasionalisme lebih dulu lahir daripada empirisme.
Selanjutnya, kita akan membuat definisi Tuhan melalui prosedur pembuatan definisi yang berbeda dari sebelumnya, lebih tepatnya, kita akan menggunakan prosedur logika ala Tan Malaka. Tetapi sebelum melangkah lebih jauh, alangkah baiknya, jika kita menganalisa secara pribadi beberapa frasa dibawah ini, setelah itu, kemudian kita akan membuat definisi tentang Tuhan.
- Yang benar-benar ada hanyalah Tuhan
- Pencipta segala sesuatu ialah Tuhan
- Dia(Tuhan) Maha Baik.
Salah satu metodologi fundamental dalam pemikiran kefilsafatan ialah Analisa. Analisa Kefilsafatan ialah melakukan pemeriksaan konsepsional atas makna yang dikandung oleh istilah-istilah yang digunakan dan pernyataan-pernyataan yang dibuat.
Jika Tuhan Maha Baik, untuk apa dia menciptakan kebathilan di dunia ini?
wkwkwkwkwkw...krik krik krik.
Jika dia tidak menciptakan atau tidak menyukai kebathilan, maka pernyataan tersebut sangat kontradiktif dengan pernyataan yang berbunyi "Tuhan Pencipta segala sesuatu", jika, kebathilan tidak diciptakan olehnya, berarti dia bukanlah pencipta segala sesuatu.
hahahahahahha.
Bagaimana selanjutnya?
Louis Kattsoff memberikan sebuah sintesa untuk menyelaraskan perdebatan tersebut yaitu dengan menganggap bahwa kebathilan di dunia ini "Tidak Ada". Penganalogian yang lain, anda tidak diperbolehkan membenci eksistensi dari Manusia, anda hanya diperbolehkan untuk membenci tingkah laku atau karakternya saja, karena setiap hal negatif pasti memiliki hal yang positif.
Dalam sudut pandang filsafat yang lain, kita mengetahui satu istilah yang sangat masyhur di dalam filsafat, yakni Definisi Ostensif.
Definisi Ostensif ialah memahami suatu dengan jalan menunjuk secara langsung) dan menunjukkan eksistensi istilah tersebut.
Jika teman-teman memahami secara mendalam, maka, sejatinya prosedur tersebut tidak akan bisa dipraktekkan untuk menunjukkan eksistensi Tuhan yang benar-benar ada.
Terlepas dari beberapa poin di atas. Sepeti yang kami sampaikan terlebih dahulu, bahwasanya, kita akan membuat definisi tentang Tuhan melalui prosedur kefilsafatan ala Tan Malaka.
Tan Malaka berkata "Pada tingkat ini, kita mesti periksa, apakah definisi kita mencukupi segala syarat berikut” :1. Definisi seboleh-bolehnya pendek, tetapi jangan melebar(kelapangan) atau kesempitan.2. Definisi itu tak boleh circular, berputar-putar.3. Definisi itu mesti general, umum.4. Definisi tak boleh memakai metafor, ibarat figura, gambaran, obscuate, memakai perkataan gaib, gelap.5. definisi tak boleh negatif. (Madilog~Tan Malaka).
Dengan mengikuti kaidah di atas, akan kita temukan salah satu definisi baru tentang Tuhan. Tuhan adalah Dzat non-jasmani (yang secara otomatis tidak bisa dicerna oleh panca indera) dan sebuah realitas metafisika kontradiktif dengan segala yang ada (being).
Sebelum penulis memberikan kritik sekaligus kesimpulan untuk tulisan ini, akan kami paparkan secara singkat dan jelas tentang ke-Tuhanan dalam perspektif teori kausalitas murni Aristoteles, seperti yang ada di bawah ini.
Aristoteles (384-322 SM) dijuluki dengan bapak logika, yang masyhur dikenal dengan Logika Aristoteles, sekaligus sebagai penemu atau mungkin pembuat metodologi logika deduktif, yang mana logika tersebut mengharuskan atau menganjurkan kita untuk menggunakan sebuah tabel untuk mempermudah kita menemukan kesimpulan-kesimpulan dari berbagai problematika, atau dikenal dengan sebutan Tabel Kebenaran(dengan rumus S adalah P, Q adalah S dan Q adalah P).
Tetapi, kita tidak akan menggunakan prosedur tersebut dahulu, yang kita gunakan adalah prosedur kausalitas ala Aristoteles.
Kausalitas sendiri ialah sebuah teori tentang sebab-akibat(العلة والمعلول), jika ada sebab maka ada akibat begitu juga sebaliknya.
.
Disinilah letak perbedaannya, Aristoteles mendefinisikan atau membagi tentang “sebab” dalam empat macam, yaitu
(1) Causa Materialis - misalnya, kayu merupakan sebab bagi adanya meja;(2) Causa Formalis - misalnya, pola meja merupakan sebab bagi adanya meja;(3) Causa Efficiens - sesuatu yang mengawali gerakan, misalnya tukang kayu merupakan Causa Efficiens bagi adanya meja;(4) Causa Finalis - misalnya, tujuan pembuatan meja merupakan sebab bagi adanya meja.
Maka,
(1) Causa Materialis-ruh dan tubuh;
(2) Causa Formalis – Anatomi manusia;
(3) Causa Efficiens – Tuhan;
(4) Causa Finalis – untuk mengikuti perintahnya(dalam sudut pandang Islam) dan Causa Efficiens menjadi sebab pertama dari semua sebab-sebab di atas.
Aristoteles memiliki konsep ke-Tuhanan yang berbeda dari prosedur di atas, yang berbunyi Tuhan menurut menurut para filosof Yunani sangat berbeda dari Tuhan menurut wahyu; Tuhan Aristoteles dan Plotinus tak berwaktu dan tak bergeming; dia tidak menaruh kontribusi terhadap kejadian-kejadian duniawi, tidak mewahyukan dirinya dalam sejarah, tidak pernah menciptakan alam, dan tidak akan mengadili di Hari Kiamat.
Dari hal tersebut, terlahirlah sebuah ajaran atau sekte yang disebabkan oleh teori kausalitas di atas, yang dikenal dengan sebutan Determinisme (suatu ajaran yang berpandangan bahwa segala hal yang terjadi semata-mata merupakan akibat dari suatu sebab dan mau tidak mau tentu terjadi).
Kritik dan Kesimpulan
Secara subtansial, paham rasionalisme secara tidak langsung sudah mengingkari produk hukum formil mereka. Dengan kata lain, mereka mempunyai sebuah slogan tentang rasionalisme mereka yang berbunyi ; “Ada ialah yang nampak” yang mana hal tersebut, menurut hemat penulis tidak dijadikan sebagai landasan argumentasi mereka untuk menggali sebuah jawaban atas problem-problem mereka tentang Dzat Transendental tersebut. Memang Lebih mudah bersikap destruktif secara kritis, ketimbang bersikap konstruktif secara koheren.
Hehehehehehehehe.
Seperti tulisan sebelumnya, sebagai bentuk untuk memperkuat keimanan para pembaca “muslim”, penulis akan memberikan sebuah statement singkat yang mungkin berkaitan dengan pembahasan di atas. Allah SWT memberikan secara cuma-cuma tentang identitas/konsep pribadinya, seperti yang dikemukan olehnya di Al-Qur’an Al-Karim.
قال الله تعالى : " قُلْ هُوَاللّٰهُ اَحَدٌ (١) اَللّٰهُ الصَّمَدُ (٢) لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُوْلَدْ (٣) وَلَمْ يَكُنْ لَّهٗ كُفُوًا اَحَدٌ (٤)".
Katakanlah: "Dialah Allah Yang Maha Esa", Allah tempat kita (sekalian makhluk) bermohon, Ia tidak beranak dan tidak pula diperanakkan. Dan tidak ada yang menyerupai-Nya.
Jika tidak sungkan, hal tersebut merupakan syarat-syarat untuk menjadi Tuhan yang Maha Esa. Dan kesimpulan yang lain ialah Tuhan memang agak tidak logis(menurut hemat penulis).
Hehehehehehehehe.
Kepada para pembaca, dianjurkan untuk membaca syahadat setelah membaca tulisan, jika hal tersebut mungkin mengganggu keimanan anda kepada Tuhan yang anda percayai. Sekian dan terimakasih, serta mohon maaf atas segala kesalahan yang pasti akan anda temukan.
الله ورسوله أعلم بالصواب
Dan kami ucapkan maaf sekali lagi, karena belum menuliskan sejarah ringkas tentang rasionalisme dan perdebatan rasionalisme dan empirisme, dikarenakan itu sebuah kesengajaan, yang mana hal tersebut akan kami tuliskan ditulisan selanjutnya.
Wassalamualaikum Warahmatullah Wabaraktuh.
Don't Forget follow IG and likes @pk_pk20, @sihabullfahmi, @asramalentera
Sumber bacaan yang lain :
1. Mukhtashor Ihya' Ulumiddin~Al-Ghazali
2. Pengantar Filsafat~Louis Kattsoff
3. Metodologi Studi Islam~Abuddin Nata
4. Sejarah Tuhan~Karen Amstrong
5. Madilog~Tan Malaka
Sumber gambar :
https://assets-a1.kompasiana.com/items/album/2019/12/30/pexels-photo-1480690-5e08f4a8097f3659325c0f22.jpeg

Secara sadar saya menikmati tulisan ini. Namun, jika boleh sedikit berdalih tentang kedua pembahasan tersebut baik Rasionalisme dan emperisme. Bahwa, keduanya tentu harus beriringan. Bagi saya, jika analogi yang tertuang di atas, entah mana yang disebut bapak atau anak agaknya kurang tepat. Namun secara moderat saya ingin menyampaikan bahwa, di satu sisi rasionalisme bisa berada di atas, juga emperisme bisa di atas. Sesuai tupoksi dimana kedua kaidah tersebut digunakan.
BalasHapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
HapusHatur nuhun semeton atas masukannya, sangat logis sekali..😊
HapusKomentar ini telah dihapus oleh pengarang.
BalasHapus